RSS Feed

Ngelingi Jaman Biyen

Ngelingi Jaman Biyen merupakan sebuah konsepan kegiatan dalam acara Peringatan Hari Kartini. Konsepan tersebut sudah digunakan dua kali, yakni tahun 2015 dan tahun 2014 kemarin.

Ngelingi Jaman Biyen #1 tahun 2015

Dengan tujuan yang sama seperti konsepan acaranya, yakni membuat adik-adik mengingat kembali kegiatan Outbound saat Peringatan Hari Kartini yang dilaksanakan oleh Brama Muda pada tahun 2011 dan 2012 lalu, dengan harapan selain bisa mengingat kenangan indah bersama, juga dapat menghibur adik-adik ditengah-tengah padatnya sekolah (Refreshing) pun juga panitia.

144

Malam Minggu ala Brama Muda sebelum Outbound Ngelingi Jaman Biyen

14 (8)

yang penting kerjasamanya deh

14 (1)

Ngelingi dolanan biyen, Dakon.

Ngelingi Jaman Biyen #2 tahun 2016

Tahun 2016 ini, Brama Muda mengusung Upacara Peringatan Hari Kartini, kembali dihadiri Bapak Harjuno Wiwoho selaku Kepala Desa Sardonoharjo. Masih dengan tujuan yang sama, kembali melakukan masa indah upacara peringatan Hari Kartini yang pernah dilaksanakan Brama Muda tahun 2011 dan 2012 lalu. Tahun ini, dengan modifikasi upacara, dengan adanya Pasukan Delapan untuk pengibaran sang Merah Putih.

IMG-20160424-WA0031

Tiga Srikandi punya Brama Muda

IMG-20160424-WA0027

Pasukan Delapan ala Brama Muda

IMG-20160424-WA0018

Upacara Peringatan Hari Kartini tahun 2016 ala BRAMA MUDA

 

 

Keturunan Seni

Kalau tinggal di masyarakat, apalagi pelosok desa, pasti lah warga masyarakatnya masih kental dengan budaya Jawa. Terbukti dari upaya Brama Muda menjaga kelestarian budaya Jawa di Dusun Dayakan tercinta ini.

2013

Bisa dibilang menjadi awal mula hitz nya seni di Dusun Dayakan. Lewat Drama berbahasa jawa dengan judul Ande-ande Lumut di Pentas Tujuhbelasan, kami siap melestarikan seni budaya Jawa. Sambil mengajak beberapa adik-adik lucu dan ibu-ibu kece untuk tampil tarian tradisional di acara tersebut.

2013.JPG

Pasca Pentas Ande-Ande Lumut oleh Brama Muda dan direkam oleh teman-teman dari KagemTV

2014

Ande-ande Lumut membawa jam terbang seni di Dusun Dayakan memuncak. Suguhan drama berbahasa jawa yang kami tampilkan menginspirasi para tetua di Dusun Dayakan untuk serius mengembangkan seni di Dusun Dayakan. Jawabannya adalah dengan mengikuti lomba dalam Festival Kethoprak Kabupaten Sleman. Berkolaborasi dengan para senior yang sudah berpengalaman, diiringi gamelan jawa bapak-bapak yang berpengalaman pula, bergabung dan muncul perkumpulan bernama Padhang Jingglang. Brama Muda menjadi mengenal seni budaya jawa secara totalitas lewat itu.

DSCF3696.JPG

Salah satu adegan Lakon Bedah Madiun dalam Festival Kethoprak Kabupaten Sleman 

2015

Kembali dipertemukan dengan kesempatan melestarikan budaya Jawa di Pentas Tujuhbelasan. Kali ini, Brama Muda menampilkan Kethoprak Anak dengan lakon Jujur Mujur (cerita rakyat Joko Cengkir). Dengan bantuan beberapa bapak-bapak Padhang Jingglang, melatih adik-adik untuk bermain kehoprak, dan sebagian pemuda lainnya bergabung dibagian gamelan.

pentas17an (41).jpg

Kalau bisa melestarikan di usia muda, kenapa harus nanti? 

 

Regenerasi

Brama Muda, akrab karena dari kecil sudah sering main bareng, kebanyakan malah saudara sendiri. Kecilnya sibuk bermain setelah sekolah, ikut TPA, ikut kegiatan yang dulu diadakan pemuda desa. Kini, kami yang berada dalam posisi Pemuda Desa.

Bukan untuk bermain atau hanya sekedar srawung. Kami sosok yang seharusnya siap membantu segala bentuk apapun yang dibutuhkan warga masyarakat dusun Dayakan. Pengabdian dengan hati, gotong royong. Kami hanya sekedar meramaikan desa dengan beberapa kegiatan : lomba dan pentas tujuhbelasan, upacara, donor darah dan cek kesehatan, senam, jalan sehat, outbound, piknik.

Brama Muda memiliki tugas berat, menjaga moral yang baik sesuai norma masyarakat. Memberikan edukasi yang baik dicontoh adik-adik. Kami seakan menjadi penghubung erat antara para tetua dan para penerus. Menjaga kelestarian budaya masyarakat, itu tugas berat. Karena kami perlu mengajarkan pada penerus kami, menekankan bahwa bermasyarakat adalah hal yang berbeda dengan berorganisasi, yang hanya bisa dimaknai lewat pengalaman.

 

Maka,

 

Brama Muda mencetuskan program kerja baru. Membawa para teman kecil yang yaaah seusia SMP untuk sedikit merasakan menjadi pemuda desa. Lewat mengajak mereka sekedar membantu dalam pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan kolam yang kali ini sudah berjalan. Nantinya dalam cita-cita kami, membawa nama perkumpulan seperti MEKAR kembali hidup.

Perkumpulan MEKAR adalah sebuah perkumpulan anak-anak remaja dibawah naungan Brama Muda. Dasar awalnya adalah kegiatan arisan, agar para remaja dapat belajar berbicara di depan umum, pengelolaan notulensi, pengelolaan keuangan, berlajar berpendapat dan bermusyawarah, bahkan nantinya dapat mengadakan sebuah kegiatan yang mereka jalankan sendiri. Mini organisasi.

Sayangnya perkumpulan ini sudah tutup tahun beberapa tahun yang lalu karena tidak ada penerusnya. Cita-cita Brama Muda tahun ini adalah mengembalikan masa indah para penerus Brama Muda menjadi lebih cinta dengan sebutan pemuda desa tadi~

Bersih Dusun ala Brama Muda

Kardus bekas, botol minuman, kaleng, buku bekas, hingga sepeda bekas pernah kami bawa bersama si Kuning.

bm bisa

Kenalin ini yang namanya si Kuning. Fokus sama gerobaknya ya, jangan Mas yang satu itu.

 

 

 

Tahun 2010, si Kuning belum menjadi teman perjalanannya Brama Muda. Buat mendapatkan si Kuning dan beberapa teman Birunya, kita perlu mengajukan Proposal dulu nih ke BLH (Balai Lingkungan Hidup) Kabupaten Sleman. Sambil menunggu mendapatkan si Kuning, kami tetap gigih menjalankan program kerja ini. Barulah tahun 2014 kami mendapatkan si Kuning dan kawan-kawan.

DSC01752 - Copy.JPG

Ini kita, pertama kalinya ‘nggresek’. 2010.

 

Proram kerja ini kami lakukan selama satu bulan sekali, setiap hari Minggu pagi di minggu pertama bulan tersebut. Istilah yang sering kami lakukan adalah ‘nggresek’, yaaa daripada dibilang pemulung.

Alasan kenapa kami melakukan program kerja ini adalah, membantu para ibu-ibu atau keluarga yang jika di rumahnya banyak barang bekas namun tak tahu harus dibawa kemana atau dijual kemana atau di buang kemana. Nah, sebagai ‘pemantau’ lingkungan agar tetap sehat, Brama Muda mencetuskan ide agar mengumpulkan semua barang bekas warga dan menjualkannya. Hasilnya jualnya? Warga rela diberikan ke Kas Brama Muda.

DSC01797 - Copy.JPG

sortir sortir sortir

Perjuangan kami tak hanya mengumpulkan barang saja, barang-barang yang sudah dikumpulkan masih perlu disortir sesuai jenisnya barangnya, seperti : botol kaca sendiri, botol plastik sendiri bahkan harus dipisahkan tutup botol dan label produksinya, atau kertas duplex sendiri yang harus berbeda dengan kertas teks biasa. Sekarang, dalam penyortiran sampah, semua tim Brama Muda perlu senjata khusus : Masker, kalau baru-baru ini sih perlu Sarung Tangan yang biasanya dipakai dokter haha. Lingkungan sehat, kami juga tetap harus sehat.

 

 

Sayang Kolam

Bertempat di area Kandang Kelompok Dusun Dayakan yang dimulai sejak awal tahun 2014, dan bertahan hingga sekarang. Brama Muda memiliki sebuah program kerja baru : Pemberdayaan Kolam. Brama Muda memiliki dua buah kolam ikan, dengan yang dibudidayakan adalah ikan lele, ikan nila, namun selama dua tahun program kerja ini berjalan, yang paling sukses dibudidayakan adalah Ikan Lele.

MancingMania (8).jpg

Mas setia banget nunggu ikan panen

 

 

 

 

 

 

Pengadaan program kerja tersebut diharapkan mampu melatih anggota Brama Muda untuk berwirausaha, dan pendapatan yang diperoleh dari panen hasil pemberdayaan tersebut masuk dalam kas Brama Muda.

IMG-20140228-WA0002

Hasil tak pernah menghianati usaha

 

 

OUTBOND SUKA SUKA :D

Part. II OUTBOND

Lanjutan liputan artkel sebelumnya …

Masih dalam rangka peringatan hari Kartini, rangkaian acara selanjutnya yang kami laksanakan adalah outbond untuk anak-anak di Dusun Dayakan. Tema outbond yang kami usung adalah “Nguri-uri Kabudayan Jawi” atau melestarikan budaya Jawa. Oleh karena itu, kami memasukkan unsur-unsur budaya Jawa dalam setiap permainan yang kami gunakan untuk outbond.

Panitia outbond yang baru saja menyelesaikan tugasnya di lapangan sebagai petugas upacara segera capcusss dan berganti kostum, dari pakaian adat Jawa menjadi pakaian outbond, training, kaos dan sandal jepit. Selesai mengganti kostum, semua panitia membelah diri menuju pos masing-masing, kecuali sie acara dan beberapa panitia yang mulai melakukan briefing dan pembagian kelompok untuk peserta outbond.

Peserta dibagi menjadi lima kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 6-8 orang anak yang didampingi oleh 2 orang pemandu. Setiap kelompok wajib menampilkan yel-yel berdasarkan nama kelompoknya masing-masing, yaitu:

–          Kelompok Menthok

–          Kelompok Cublak-cublak Suweng

–          Kelompok Gundhul-gundhul pacul

–          Kelompok Jaranan

–          Kelompok Kodok Ngorek

Nama kelompok tersebut kami ambil dari semua judul lagu dolanan Jawa, yaitu lagu-lagu yang biasa digunakan untuk permainan anak-anak kecil di Suku Jawa pada Jaman dahulu, Sengaja kami ambilkan lagu-lagu tersebut karena sebagian besar anak-anak jaman sekarang tidak mengenalnya. Hal ini terbukti ketika tiap kelopok harus mengulang beberapa kali untuk menyanyikan lagu tersebut (miris).

There’re the songs ..

CUBLAK-CUBLAK SUWENG

Cublak cublak suweng.. suwenge ting gelenter.

Mambu ketundung gudel

Pak empong lera-lere

Sopo ngguyu ndelikkake

Sir-sir pong dhele gosong

Sir sir pong dhele gosong

MENTHOK-MENTHOK

Menthok, menthok, tak kandani mung lakumu,

Angisin-isini mbok yo ojo ngetok,

Ono kandhang wae enak-enak ngorok,

Ora nyambut gawe

Menthok, menthok …

Mung lakukumu megal megol gawe guyu

KODOK NGOREK

Kodok ngorek kodok ngorek

ngorek pinggir kali

Teyot teblung teyot teblungteyot

teyot teblung

Bocah pinter bocah pinter besuk dadi dokter

Bocah bodho bocah bodho besuk kaya kebo

 

JARANAN

Jaranan-jaranan… jarane jaran teji

Sing numpak ndara bei

Sing ngiring para mantri

Jeg jeg nong..jeg jeg gung

Prok prok turut lurung

Gedebug krincing gedebug krincing

Prok prok gedebug jedher

GUNDHUL-GUNDHUL PACUL

Gundhul gundhul pacul cul, gembelengan

Nyunggi nyunggi wakul kul, petentengan

Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar

Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar

Selesai briefing dan pembagian kelompok,a cara outbond siap dimulai dan ditandai dengan pemotongan pita oleh mantan ketua Brama Muda periode 2008 dan pelepasa 2 ekor burung merpati oleh ketua panitia.

Semua kelompok berangkat menuju pos-pos sesuai peta yang mereka dapatkan. Rute outbond yang harus ditempuh adalah keliling Dusun Dayakan. Dalam outbond kemarin, kami mengadakan 5 pos utama yang berisi permainan tradisional Jawa dan 2 pos bayangan  yang tersebar di beberapa titik strategis di Dusun Dayakan. Pos-pos tersebut adalah:

 

Pos 1 Ular Naga Panjangnya (Lapangan dusun Dayakan)

Pos 2 Gobag Sodhor (halaman rumah ketua I Brama Muda, sdr. Imam)

Pos bayangan I Jaring Laba-laba (sebelah warung angkringan Lek To)

Pos 3 Dhingklek Oglak-aglik (halam rumah Koord. Humas Brama Muda, sdr. Sigit)

Pos 4 Tamparan (halaman rumah salah satu warga Dusun Dayakan, Ibu Lastri)

Pos 5 Dakon (halaman Bendahara Brama Muda, sdri. Retno & Widya)

Pos bayangan II Estafet Air (Sungai di pinggir Lapangan dan area persawahan)

ini dia beberapa foto kegiatannya ..

 

 

 

eserta outbond sangat antusias mengikuti acara ini. Kebanyakan dari mereka belum pernah memainkan permainan-permainan tradisional yang kami sajikan. Ditambah tingkah polah lucu pemandu dan panitia yang semakin membuat semarak acara outbond.

Di setiap pos, setelah menunaikan tugasnya, masing-masing kelompok akan memperoleh amplop yang berisi potongan cerita tentang RA Kartini. Setelah selesai menempuh perjalanan hingga pos terakhir dan kembali berkumpul di lapangan untuk beristirahat, para pemandu kelompok wajib menceritakan potongan-potongan cerita tentang RA Kartini yang telah mereka peroleh kepada “anak asuhnya”, sambil menikmati nasi kuning dan pudding yang telah disediakan oleh panitia (nyammmmmm).

Dalam outbond ini, panitia tidak menentukan siapa pemenangnya, panitia hanya akan memberikan penghargaan bagi setiap tim dengan kategori tim terkompak, terlucu, terngeyel, tercepat, terlemot, dan best of the best team. Di akhir acara, panitia memberikan door prize sesuai dengan penghargaan yang mereka terima, dengan syarat para peserta harus mengumpulkan sampah-sampah yang ada di lapangan (yang berupa plastic kemasan nasi kuning dan pudding yang mereka santap) terlebih dahulu. Ketika lapangan telah bersih, door prize siap dibagi. Sorak sorai semakin bertambah ketika salah seorang pemandu, yaitu Dika, diberi kejutan karena saat itu ia berulang tahu. Semua bergembira  daaaaaaaannnn usai sudah acara outbond hari itu.

Anak-anak pun bersorak-sorak,

“Besok ngadain lagi yaaaa, mas, mbak!!”

See you later, kami pun bahagia bias berbagi ceria dengan kalian, sobat-sobat kecil J

PERINGATAN HARI KARTINI

Kegiatan paling fresh dari Brama Muda, baru saja kami laksanakan pada tanggal 24 April 2011 lalu. Rangakaian kegiatan ini terdiri dari aksi tanam pohon (yang pelaksanaannya bertepatan dengan peringatan hari bumi sedunia pada tanggal 22 April 2011), dilanjutkan dengan upacara bendera dan outbond (untuk anak-anak) pada hari minggu tanggal 24 April2011.

Hal unik yang kami tampilkan dalam peringatan hari Kartini tersebut adalah, kami mengusung tema

“ MENGETI DINTEN KARTINI KANTHI NGURI-URI KABUDAYAN JAWI: MEMPERINGATI HARI KARTINI DENGAN MELESTARIKAN BUDAYA JAWA”

Salah satu tujuan kami menyelenggarakan acara tersebut memang untuk melestarikan kebudayaan Jawa, khususnya bagi kalangan anak-anak yang sebagian besar kurang begitu peduli dengan kebudayaan Jawa.

Unsur budaya Jawa kami suguhkan melalui penyelenggaraan upacara bendera dengan menggunakan bahasa Jawa seperti yang digunakan pada upacara-upacara resmi di Keraton dan pelaksanaan outbond bagi anak-anak, di mana dalam outbond tersebut kami menyuguhkan permainan-permainan tradisional seperti: gobag sodor, dhingkek oglak-aglik, dakon, tamparan dan lompat tali, serta ular naga panjangnya.

Berikut adalah reviewnya:

Part.I UPACARA BENDERA

“Siaga yitna, gya!”

Suara lantang tiga orang tiga orang pemimpin pleton, yang kesemuanya adalah perempuan (seluruh petugas upacara pada saat itu adalah perempuan, kecuali petugas pengibar bendera),  yang dalam bahasa Indonesia berarti “Siap grak!”, mengawali upacara peringatan hari Kartini pada hari Minggu 24 April 2011 lalu. Bertempat di lapangan sebelah timur dusun Dayakan tercinta, Panitia penyelenggara  “berhasil” menghadirkan Bapak Drs.H.Mardiyana selaku Camat Ngaglik dan Bapak Harjuno Wiwoho,S.E selaku Lurah Desa Srdonoharjo, sebagai Pembina upacara. Suatu kebanggaan yang mendalam karena ini adalah acara pertama Brama Muda yang dihadiri oleh tokoh-tokonh penting dari Pemda.

Bapak Camat sangat terkesan karena seluruh peserta upacara berpakaian rapi menggunakan pakaian Jawa dan batik yang rapi. Panitia memang menghimbau seluruh peserta upacara untuk menggunakan dresscode  demikian. Untuk petugas upacara dan paduan suara yang semuanya adalah pemuda-pemudi Dusun Dayakan, menggunakan kebaya dan sorjan yang warna-warni. Para pemuda terlihat gagah, sedangkan pemudi terlihat anggun dan cantik.

Urut-urutan upacara hari itu secara keseluruhan sama dengan upacara yang diselenggarakan di sekolah-sekolah atau instansi-instansi pemerintah, yang membedakan adalah aba-aba yang digunakan dalam upacara semuanya menggunakan bahasa Jawa. Kecuali pembacaan teks Pancasila, penyanyian lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, dan Lagu Nasional Ibu Kita Kartini, semua urutan upacara dilafadzkan menggunakan bagasa Jawa, termasuk amanat dari Pembina upacara.

Amanat upacara pagi itu disampaikan oleh Bapak Camat Ngaglik. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan Brama Muda tersebut sangat bagus dan kreatif. Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini dapat rutin diselenggarakan, lebih membanggakan lagi apabila pesertanya mencakup satu kelurahan. Selain itu, beliau juga cukup antusias dengan kegiatan tanam pohon yang kami selenggarakan 2 hari sebelumnya.

Upacara yang berlangsung kurang lebih satu setengah jam sejak pukul 07.30 WIB tersebut diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan kepada Bapak Camat dan Bapak Lurah yang diserahkan oleh Ketua Umum Brama Muda, sdr, Budidaya,  serta kepada dua orang perwakilan peserta yang berpakaian paling menarik yang diserahkan oleh Bapak Lurah Sardonoharjo.

Ok, sekian dulu liputannya.

Next, akan rilis liputan tentnag outbond dan tanam pohon. See you ^_^

Dayakan, 21 Mei 2011

-Panitia Kartinian-