Pengumpan RSS

Sumber Kehidupan Program Kerja : Dapat Saldo Dari Mana ?

Sempat terdengar bisikan kurang srawung di telinga kami. Sempat dikomplain kenapa hanya itu-itu saja yang muncul. Bahkan, sempat juga digunjing, mana ini pemudanya, kok tidak ada kegiatan apa-apa.

Padahal, saat itu kami bukan sedang tidak ada kegiatan. Justru kami sedang menguras otak untuk menjawab kritikan mereka, membuktikan bahwa yang mereka lihat sekilas itu salah. Kami sedang menyusun program kerja baru untuk tahun 2018. Sejujurnya, tahun 2018 merupakan tahun yang berat, dimana kami melepas kegiatan yang rutin memberikan pemasukan pada saldo kami. Kami melepas program pengambilan sampah yang dilaksanakan sebulan sekali.

Singkat cerita, kami pun memilih beberapa kegiatan rutin yang diharapkan bisa menambah pemasukan saldo.

[1] Piket Penagihan Listrik

Program kerja ini bukan program yang baru untuk kami. Karena, semenjak Brama Muda lahir, sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai tim penagihan listrik milik warga Dusun Dayakan.

Sistemnya, kami mengambil tagihan listrik dari pusat. Kemudian, kami rekap tagihan tersebut, plus ditambahkan dengan biaya jasa penarikan listrik sekitar Rp 1.500 hingga Rp 3.000 per rumah. Rekapan tagihan (dalam bentuk struk listrik)tersebut kemudian kami bagikan  ke setiap rumah warga dan kemudian kami tagih biayanya. Kami kumpulkan, kemudian kami setorkan kembali ke pusat. Lewat program kerja ini, saldo yang masuk di kas Brama Muda adalah sekitar Rp 100.000.

Penagihan listrik ini dibagitugaskan ke dalam 6 kelompok. Setiap kelompok mendapat jatah untuk bertugas selama dua kali dalam setahun. Setiap kelompok bisa terdiri dari 5 atau 6 pemuda/i. Sudah menjadi kebiasaan pula, tim penagih yang melaksanakan piket ini diberi jasa Rp 25.000/ kelompok.

[2] Piket Kolam

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Program kerja ini juga bukan merupakan program yang baru bagi kami. Kalau tidak salah ini adalah pemberdayaan lele yang keempat (maafkan mimin lupa). Sempat tidak diberlakukan piket untuk ‘mengurusi’ kolam, pada tahun ini kami memutuskan untuk melaksanakannya kembali.

Kenapa dulu sempat tidak dibuat piket? Karena kami berekspektasi yang kerja hanya itu-itu saja dan malah akan ada yang tidak peduli. Tetapi pada tahun ini, kami optimis, dan kami akan membuktikan bahwa kami semua bisa ‘muncul’. Selain itu, piket ini juga melatih kepedulian seluruh anggota Brama Muda akan apa yang sedang mereka miliki dan yang sedang mereka perjuangkan. Karena dulu, hanya divisinya saja yang melaksanakan program ini. Tapi kali ini, kami juga optimis, bahwa kami ini satu, bukan per divisi.

Kembali ke sistem program kerja. Kami dibagi ke dalam 6 kelompok. Setiap kelompok dibagitugaskan dalam sehari seminggu, kecuali pada hari Minggu, kami melakukan piket bersama. Piket yang dilakukan adalah pemberian makan lele pada pagi dan sore hari atau membersihkan kolam apabila terdapat dedaunan/dahan yang jatuh disana, atau ada beberapa lele yang mati. Agar tidak terjadi miskomunikasi sudah atau belumnya lele diberi makan, kami juga memberikan ceklis di dekat tempat penyimpanan pakan, bagi yang telah melaksanakan piket, kami harus centang.

Keuntungan hasil panen adalah hal yang kami incar untuk pemasukan saldo. Terkadang kami jual langsung kepada penjual lele, atau kami tawarkan kepada warga. Berharapnya modal beli bibit dan beli pakan untuk pemberdayaan ini bisa kembali ke kas kami, serta ada tambahan untungnya untuk kami. Hehe.

[3] Ronda Pemuda

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Nah, program kerja ini merupakan program yang baru bagi kami. Seperti ronda-ronda yang kebanyakan bapak-bapak laksanakan, terjadwal. Jadwal ronda ini, kami samakan dengan jadwal setiap kelompok melaksanakan piket kolam. Ben sekalian to melaksanakan tugas e.

Bedanya dengan ronda bapak-bapak. Satu, jimpitan hanya diberikan di rumah warga yang ada pemudanya. Kedua, jimpitan yang kami punya bentuknya seragam, dari kaleng dan berstiker logo Brama Muda, agar supaya tidak tertukar dengan jimpitan warga biasanya. Ketiga, kami melaksanakan jimpitan habis maghrib/habis isya saja. Bukan tengah malam. Keempat, kami tidak nongkrong di pos ronda, kami biasanya hanya nongkrong di posko (rumah salah satu pemuda siapa pun itu) sambil merekap hasil jimpitan, sambil ngemil, sambil update ke grup, sambil srawung.

Lewat ronda pemuda ini, setiap harinya kami berpenghasilan (wkwk) sekitar Rp 10.000. Lumayan untuk isi kas lagi kan? Hehe

Selain menambah saldo, diharapkan melalui program kerja tersebut, pemuda bisa ‘terlihat’ kembali ke warga masyarakat Dayakan.

[4] Jasa Cuci Motor

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Program kerja ini biasa kami laksanakan jika kami butuh tambahan pemasukan dadakan untuk kegiatan besar kami, seperi 17an, kartinianIstilah lainnya adalah danus-an.

Jasa cuci motor ini kami lakukan di depan Masjid Al-Muttaqin Dayakan, karena spotnya pas berada di tengah-tengah antara RT utara dan RT selatan, selain itu ya dekat dengan kali, sebagai sumber airnya.

Sistemnya? Kami menerima antar jemput motor untuk dicuci. Paket lengkap hingga menginclongkan. Cukup dengan Rp 5.000 per motor, dan motor siap untuk diajak pergi liburan. Modal cukup Rp 100.000 termasuk sabun, kanepo, pengilap serta konsumsi untuk kami. Keuntungan yang bisa kami raih adalah sekitar Rp 400.000 – Rp 500.000.

[5] Jaga Parkir Jathilan

sc

Program kerja ini pun dadakan. Kalau ada event Jathilan, biasanya di Merti Desa, kami lah yang menjaga parkir para penonton. Cukup dengan modal Rp 20.000 untuk fotokopi karcis, bisa dapat keuntungan Rp 600.000.

[6] Kas Arisan

Nah, kas ini yang selalu setia kami miliki. Sebagai alasan untuk perkumpulan rutin juga, dan bisa srawung ke rumah-rumah pemuda yang mendapat arisan di perkumpulan selanjutnya juga kan.

Akan ada banyak cara untuk memiliki pemasukan. Akan ada banyak jalan agar kami kembali.

Iklan

Jalan, Kuliner, Ciblon

Hari libur, biasanya diagendakan sebagai hari bangun siang. Tapi, telah menjadi rutinitas kami semua (baru sejak awal tahun ini sih) untuk melaksanakan jalan pagi. Awalnya cuma ajak-ajak via chat aja, lama-lama jadi segerombol deh.

Ini bukan program kerja kami, ini hanya rutinitas kami, sebagai wujud paseduluran dan memiliki tubuh yang sehat.

Kami sedikit sharing saja ya. Hari Minggu, pukul 5.00 pagi, di group chat kami akan muncul : Jalan yuk?  Kemudian

[A] Posisi?

[B] Ok. Tak tunggu lor ndeso.

[C] Siapa aja?

[D] Jangan lupa bawa duit.

ada juga

[E] Wah lagi tangi, tekan endi?

[F] Tak nyusul numpak pit ya.

Setelah dilema-dilema di atas, yaa, tetap jadi dong jalan sehatnya. Rute? Cuma di sekitar kawasan Dayakan saja, masih dalam lingkup Desa Sardonoharjo atau sedikit Sariharjo hehe. Rata-rata kami berjalan sepanjang 5 atau 6 Km yang ditempuh kurang lebih 2 jam. Namanya juga jalan santai.

Alasan kenapa harus bawa duit saat jalan pagi adalah, kami selalu mampir untuk sarapan. Biasanya di dekat Pasar Rejodani. Kami bisa pesan bubur ayam, soto, gado-gado, bahkan bakso. Kan niatnya buat sehat, bukan biar kurus, jadi habis olahraga tetap harus sarapan.  Hehe.

Setelah sarapan, kita lanjutkan perjalanan pulang. Biasanya nih ya, kami selalu mampir Kali Boyong dan selalu berakhir sampai rumah dalam keadaan basah kuyup. Kenapa? Karena kami ngga tahan untuk ciblon alias nyebur di sungai [keindahan Boyong di artikel selanjutnya ya].

Mungkin kegiatan kita memang sederhana, jalan-makan-rekreasi, tempat yang dilewati dan dikunjungi pun sudah biasa. Tetapi, kegiatan ini menjadi mahal karena dilewati bersama. Sesuatu yang tidak bisa dibeli atau diulangi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Benih Manis Perjuangan yang Kini Menghasilkan Rindu

Kebersamaan akan selalu memunculkan nostalgia. Sudah banyak waktu kami lalui bersama. Mulai dari pahitnya amarah, asemnya ketidakpedulian, gurihnya perjuangan, hingga manisnya senyuman.

Januari 2017. Kami mengajukan proposal. Selang 3 bulan. Kami mendapatkan kabar bahwa proposal kami lolos. Dari 3 proposal yang lolos, pemerintah hanya meminta 2 nama saja. Akhirnya, kita bersatu dengan seluruh warga masyarakat Dusun Dayakan. Bersama-sama kami memperjuangkan kesejahteraan bersama.

 

Capture

TPS 3R BRAMA MUDA

Mei 2017. Kami lolos. Dan perjuangan level selanjutnya baru saja terbuka. Ada banyak administrasi yang harus disiapkan, ada banyak otak yang harus dikuras, ada banyak tenaga yang harus dikerahkan, dan ada banyak waktu yang harus dikorbankan. Persiapan kurang lebih 2-3 bulan, pembangunan 3 bulan. Dan berakhir gagah pada November 2017. Tidak begitu banyak kami berkecimpung langsung dengan perjuangan ini. Kebanyakan pejuang ini adalah tokoh masyarakat dan pengurus Brama Muda hanya beberapa saja. Namun, nama yang terpampang gagah indah itu terdapat nama kami: Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), Tempat Pengelolaan Sampah berbasis 3R (Reuse, Reduce, Recycle) BRAMA MUDA.

Tidak mudah perjuangan kami dinilai berarti bagi orang lain. Ada banyak tanggapan bahkan kritikan yang kami dengar dari sekeliling orang. Ada yang tak ikhlas, ada yang tak bangga, ada yang tidak peduli.

 

Tapi, kami bertahan. Mengokohkan niat.

[1] Dulu, bikin proposal ini untuk apa?

Untuk punya tempat pengelolaan sampah.

[2] Kenapa?

Program kerja ini sudah menjanjikan, bermanfaat untuk banyak hal. Karena harus jalan terus tapi tempat yang kita punya selalu pindah-pindah dan numpang di lahan orang.

[3] Kenapa harus dilanjutkan programnya, menjanjikan gimana?

Yang jelas terlihat, penghasilan setiap bulan, untuk ngisi saldo kas Brama Muda. Yang jelas terasa, kebersamaan saat melaksanakan program kerja ini.

[4] Ngisi saldo kas Brama Muda untuk apa?

Untuk nambah pemasukan, simpanan, biar bisa menunjang banyak program kerjanya Brama Muda.

[5] Jadi saldonya kemana?

Ke program kerja.

[6] Program kerja buat siapa?

Buat masyarakat Dusun Dayakan lah.

Tujuan program kerja kita itu bukan buat seneng-seneng. Masyarakat harusnya paham. Kita ngambilin barang mereka, meskipun sudah bekas bahkan sampah, terus kita jual, uangnya masuk ke kas kita. Mereka seharusnya enggak boleh iri. Karena apa, uang yang kita dapatkan dari barang-barang mereka, toh hasilnya akan kembali ke mereka. Lewat apa? Lewat acara atau program kerja yang kita punya, contohnya lomba 17an, jalan sehat, pentas seni, senam. Semua kembali ke mereka. Tapi ya itu, tidak semua orang paham, taunya cuma kita buat seneng-seneng aja, piknik sana piknik sini, minta duit ini, minta duit itu.

[7] Sekarang, udah ga punya kas masuk ya berarti?

Hehe kalau dari divisi pengelolaan lingkungan sih udah enggak, kan udah jadi TPS 3R itu. Toh di TPS 3R yang penting juga menjalankan hal yang sama, masih tetap peduli sama lingkungan.

Kalau pemasukan saldo sih, sudah ada jalan baru, semoga program Ronda Pemuda kami pun berjalan cukup baik dan bisa tambah kas, semoga besok juga lekas panen lele. Tapi ya itu, jadi nggak punya kegiatan yang semuanya kumpul.

[8] Maksudnya?

Biasanya kan sebulan sekali kita milah sampah bareng. Ngangkutin karung-karung bareng, nggeret si kuning bareng-bareng, milah sampah bareng, oncal-oncalan doplex, oncal-oncalan botol, kresak-kresek-plenat-plenet, sibuk nyari masker sama sarung tangan. Ngemil bareng, minum bareng. Itu semua kan anggota bisa kumpul, yaaa walaupun juga kadang itu-itu aja.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Nah kalau sekarang kan enggak. Walaupun sudah ada program kerja pengganti, tapi kan nggak semuanya bisa kumpul jadi satu. Contoh, piket kolam, yang kasih makan kan per kelompok piket, yang nggak piket kan kadang gak dateng. Ronda pemuda juga, itu kan piket juga modelnya. Semua gak berkumpul dalam satu kegiatan. Meskiiipun kita jiga bisa tetep srawung, tapi ya itu di waktu dan tempat dan partner yang berbeda. Kangen aja.

[9] Jadi, ga seneng ada TPS 3R?

Ya senaaaang. Itu kan awalnya juga ada perjuangan dari Brama Muda sendiri juga. Akhirnya kita punya pencapaian. Punya tempat pengelolaan sampah yang ternyata super mewah jika dibandingkan perjalanan program kita dulu. Tapi ya itu, itu bukan program kerja kita lagi.

[10] Brama Muda di TPS 3R emang gimana sih?

Brama Muda dan TPS 3R itu beda organisasi ya. TPS 3R itu bukan miliknya Brama Muda, meskipun namanya Brama Muda. TPS 3R itu miliknya seluruh warga masyarakat Dusun Dayakan, bukan hanya pemuda yang di Brama Muda atau hanya tokoh masyarakat saja, tapi yaaa miliknya warga semuanya. Itulah kenapa disebut dengan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat), bukan organisasi kepemudaan.

Nama itu dipakai karena dulu proposal atas nama Brama Muda. Tetap dipilih nama Brama Muda karena diharapkan pengelolanya sendiri memang dari pemuda, bapak-bapak atau tokoh masyarakat hanya sebagai backup dan pelengkap saja. Terbukti, selama hampir 4 bulan perjalanan TPS 3R ini, tim pemilah adalah anggota Brama Muda dan beberapa pengelola (jajaran direktur, halaaah :p) adalah anggota Brama Muda juga.

Harapan utama memang TPS 3R ini bisa bermanfaat untuk seluruh masyarakat Dusun Dayakan. Seperti pembuka lapangan kerja, misalnya. Atau paling tidak sebagai pelopor kebersihan dusun 🙂

 

Ngelingi Jaman Biyen

Ngelingi Jaman Biyen merupakan sebuah konsepan kegiatan dalam acara Peringatan Hari Kartini. Konsepan tersebut sudah digunakan dua kali, yakni tahun 2015 dan tahun 2014 kemarin.

Ngelingi Jaman Biyen #1 tahun 2015

Dengan tujuan yang sama seperti konsepan acaranya, yakni membuat adik-adik mengingat kembali kegiatan Outbound saat Peringatan Hari Kartini yang dilaksanakan oleh Brama Muda pada tahun 2011 dan 2012 lalu, dengan harapan selain bisa mengingat kenangan indah bersama, juga dapat menghibur adik-adik ditengah-tengah padatnya sekolah (Refreshing) pun juga panitia.

144

Malam Minggu ala Brama Muda sebelum Outbound Ngelingi Jaman Biyen

14 (8)

yang penting kerjasamanya deh

14 (1)

Ngelingi dolanan biyen, Dakon.

Ngelingi Jaman Biyen #2 tahun 2016

Tahun 2016 ini, Brama Muda mengusung Upacara Peringatan Hari Kartini, kembali dihadiri Bapak Harjuno Wiwoho selaku Kepala Desa Sardonoharjo. Masih dengan tujuan yang sama, kembali melakukan masa indah upacara peringatan Hari Kartini yang pernah dilaksanakan Brama Muda tahun 2011 dan 2012 lalu. Tahun ini, dengan modifikasi upacara, dengan adanya Pasukan Delapan untuk pengibaran sang Merah Putih.

IMG-20160424-WA0031

Tiga Srikandi punya Brama Muda

IMG-20160424-WA0027

Pasukan Delapan ala Brama Muda

IMG-20160424-WA0018

Upacara Peringatan Hari Kartini tahun 2016 ala BRAMA MUDA

 

 

Keturunan Seni

Kalau tinggal di masyarakat, apalagi pelosok desa, pasti lah warga masyarakatnya masih kental dengan budaya Jawa. Terbukti dari upaya Brama Muda menjaga kelestarian budaya Jawa di Dusun Dayakan tercinta ini.

2013

Bisa dibilang menjadi awal mula hitz nya seni di Dusun Dayakan. Lewat Drama berbahasa jawa dengan judul Ande-ande Lumut di Pentas Tujuhbelasan, kami siap melestarikan seni budaya Jawa. Sambil mengajak beberapa adik-adik lucu dan ibu-ibu kece untuk tampil tarian tradisional di acara tersebut.

2013.JPG

Pasca Pentas Ande-Ande Lumut oleh Brama Muda dan direkam oleh teman-teman dari KagemTV

2014

Ande-ande Lumut membawa jam terbang seni di Dusun Dayakan memuncak. Suguhan drama berbahasa jawa yang kami tampilkan menginspirasi para tetua di Dusun Dayakan untuk serius mengembangkan seni di Dusun Dayakan. Jawabannya adalah dengan mengikuti lomba dalam Festival Kethoprak Kabupaten Sleman. Berkolaborasi dengan para senior yang sudah berpengalaman, diiringi gamelan jawa bapak-bapak yang berpengalaman pula, bergabung dan muncul perkumpulan bernama Padhang Jingglang. Brama Muda menjadi mengenal seni budaya jawa secara totalitas lewat itu.

DSCF3696.JPG

Salah satu adegan Lakon Bedah Madiun dalam Festival Kethoprak Kabupaten Sleman 

2015

Kembali dipertemukan dengan kesempatan melestarikan budaya Jawa di Pentas Tujuhbelasan. Kali ini, Brama Muda menampilkan Kethoprak Anak dengan lakon Jujur Mujur (cerita rakyat Joko Cengkir). Dengan bantuan beberapa bapak-bapak Padhang Jingglang, melatih adik-adik untuk bermain kehoprak, dan sebagian pemuda lainnya bergabung dibagian gamelan.

pentas17an (41).jpg

Kalau bisa melestarikan di usia muda, kenapa harus nanti? 

 

Regenerasi

Brama Muda, akrab karena dari kecil sudah sering main bareng, kebanyakan malah saudara sendiri. Kecilnya sibuk bermain setelah sekolah, ikut TPA, ikut kegiatan yang dulu diadakan pemuda desa. Kini, kami yang berada dalam posisi Pemuda Desa.

Bukan untuk bermain atau hanya sekedar srawung. Kami sosok yang seharusnya siap membantu segala bentuk apapun yang dibutuhkan warga masyarakat dusun Dayakan. Pengabdian dengan hati, gotong royong. Kami hanya sekedar meramaikan desa dengan beberapa kegiatan : lomba dan pentas tujuhbelasan, upacara, donor darah dan cek kesehatan, senam, jalan sehat, outbound, piknik.

Brama Muda memiliki tugas berat, menjaga moral yang baik sesuai norma masyarakat. Memberikan edukasi yang baik dicontoh adik-adik. Kami seakan menjadi penghubung erat antara para tetua dan para penerus. Menjaga kelestarian budaya masyarakat, itu tugas berat. Karena kami perlu mengajarkan pada penerus kami, menekankan bahwa bermasyarakat adalah hal yang berbeda dengan berorganisasi, yang hanya bisa dimaknai lewat pengalaman.

 

Maka,

 

Brama Muda mencetuskan program kerja baru. Membawa para teman kecil yang yaaah seusia SMP untuk sedikit merasakan menjadi pemuda desa. Lewat mengajak mereka sekedar membantu dalam pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan kolam yang kali ini sudah berjalan. Nantinya dalam cita-cita kami, membawa nama perkumpulan seperti MEKAR kembali hidup.

Perkumpulan MEKAR adalah sebuah perkumpulan anak-anak remaja dibawah naungan Brama Muda. Dasar awalnya adalah kegiatan arisan, agar para remaja dapat belajar berbicara di depan umum, pengelolaan notulensi, pengelolaan keuangan, berlajar berpendapat dan bermusyawarah, bahkan nantinya dapat mengadakan sebuah kegiatan yang mereka jalankan sendiri. Mini organisasi.

Sayangnya perkumpulan ini sudah tutup tahun beberapa tahun yang lalu karena tidak ada penerusnya. Cita-cita Brama Muda tahun ini adalah mengembalikan masa indah para penerus Brama Muda menjadi lebih cinta dengan sebutan pemuda desa tadi~

Bersih Dusun ala Brama Muda

Kardus bekas, botol minuman, kaleng, buku bekas, hingga sepeda bekas pernah kami bawa bersama si Kuning.

bm bisa

Kenalin ini yang namanya si Kuning. Fokus sama gerobaknya ya, jangan Mas yang satu itu.

 

 

 

Tahun 2010, si Kuning belum menjadi teman perjalanannya Brama Muda. Buat mendapatkan si Kuning dan beberapa teman Birunya, kita perlu mengajukan Proposal dulu nih ke BLH (Balai Lingkungan Hidup) Kabupaten Sleman. Sambil menunggu mendapatkan si Kuning, kami tetap gigih menjalankan program kerja ini. Barulah tahun 2014 kami mendapatkan si Kuning dan kawan-kawan.

DSC01752 - Copy.JPG

Ini kita, pertama kalinya ‘nggresek’. 2010.

 

Proram kerja ini kami lakukan selama satu bulan sekali, setiap hari Minggu pagi di minggu pertama bulan tersebut. Istilah yang sering kami lakukan adalah ‘nggresek’, yaaa daripada dibilang pemulung.

Alasan kenapa kami melakukan program kerja ini adalah, membantu para ibu-ibu atau keluarga yang jika di rumahnya banyak barang bekas namun tak tahu harus dibawa kemana atau dijual kemana atau di buang kemana. Nah, sebagai ‘pemantau’ lingkungan agar tetap sehat, Brama Muda mencetuskan ide agar mengumpulkan semua barang bekas warga dan menjualkannya. Hasilnya jualnya? Warga rela diberikan ke Kas Brama Muda.

DSC01797 - Copy.JPG

sortir sortir sortir

Perjuangan kami tak hanya mengumpulkan barang saja, barang-barang yang sudah dikumpulkan masih perlu disortir sesuai jenisnya barangnya, seperti : botol kaca sendiri, botol plastik sendiri bahkan harus dipisahkan tutup botol dan label produksinya, atau kertas duplex sendiri yang harus berbeda dengan kertas teks biasa. Sekarang, dalam penyortiran sampah, semua tim Brama Muda perlu senjata khusus : Masker, kalau baru-baru ini sih perlu Sarung Tangan yang biasanya dipakai dokter haha. Lingkungan sehat, kami juga tetap harus sehat.